top of page

KAI Susun Roadmap Teknologi Keselamatan Kereta, Uji ATP Ditargetkan Rampung 2027

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 1 hari yang lalu
  • 2 menit membaca


Jakarta (PRSSNIJabar) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai menyusun peta jalan pengembangan teknologi keselamatan kereta api melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk memastikan sistem Automatic Train Protection (ATP) yang akan diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional perkeretaapian di Indonesia.


Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dalam kegiatan BRIN Goes to Industry 5 di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Jakarta, Selasa (28/7). Melalui kerja sama tersebut, KAI dan BRIN akan melakukan riset, kajian teknis, hingga pengujian terhadap berbagai alternatif teknologi sebelum menentukan sistem yang akan diadopsi.


Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, mengatakan keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pengembangan teknologi di lingkungan perusahaan. Karena itu, setiap inovasi harus melalui proses kajian yang matang sebelum diterapkan dalam operasional.


"Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Kolaborasi bersama BRIN memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga keputusan implementasinya memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat," ujar I Gede.


Automatic Train Protection merupakan sistem yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta. Teknologi ini mampu mencegah kereta melintas saat sinyal masih menunjukkan berhenti, mengawasi kecepatan perjalanan sesuai batas yang ditentukan, serta menyampaikan informasi operasional kepada masinis secara otomatis.


Sistem tersebut bekerja melalui integrasi perangkat yang dipasang pada jalur rel dengan perangkat yang berada di lokomotif atau kereta berpenggerak. Karena melibatkan berbagai komponen penting, penerapannya membutuhkan pengujian menyeluruh agar dapat beroperasi secara aman dan andal.


Untuk itu, KAI bersama BRIN akan menggunakan pendekatan Proof of Product. Metode ini memungkinkan teknologi diuji dalam kondisi yang mendekati operasional sebenarnya sehingga seluruh aspek, mulai dari fungsi, integrasi sistem, hingga potensi risiko, dapat dievaluasi lebih awal.


"Proof of Product memungkinkan teknologi dinilai dalam situasi operasional yang relevan. KAI dapat memahami sejak awal fungsi, antarmuka, kebutuhan integrasi, potensi risiko, serta kemampuan pemeliharaannya sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam skala yang lebih luas," kata I Gede.


Dalam pelaksanaannya, KAI telah menyiapkan roadmap pengembangan ATP yang dibagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama pada Triwulan III 2026 akan diawali dengan pembentukan ATP Working Group yang melibatkan KAI, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, serta BRIN. Tim ini akan menyusun konsep implementasi, kebutuhan fungsional, kajian kondisi operasional di Indonesia, hingga rekomendasi teknologi yang dinilai paling sesuai.


Memasuki Triwulan IV 2026, fokus beralih pada penyusunan desain Proof of Product, penetapan kebutuhan teknis, operasional, dan keselamatan, sekaligus melakukan market sounding kepada penyedia teknologi.


Tahap berikutnya dijadwalkan berlangsung hingga Triwulan II 2027. Pada fase ini akan dilakukan uji lapangan, evaluasi teknologi, serta safety assessment terhadap sistem ATP yang akan diterapkan pada sarana maupun prasarana perkeretaapian.


Selain mengembangkan teknologi berbasis perangkat onboard dan balise, KAI juga mulai mengeksplorasi pemanfaatan teknologi satelit serta komunikasi nirkabel. Namun, opsi tersebut masih memerlukan kajian lanjutan, terutama terkait regulasi dan kesiapan jaringan komunikasi khusus yang mendukung sistem keselamatan kereta api.


Kolaborasi dengan BRIN juga mencakup penyusunan dokumen teknis, kajian kesiapan integrasi pada sarana, serta penyusunan rekomendasi implementasi bersama regulator, konsultan, produsen sarana, hingga penyedia teknologi.


Melalui rangkaian riset tersebut, KAI berharap sistem keselamatan yang nantinya diterapkan tidak hanya memenuhi standar teknis, tetapi juga mampu mendukung operasional kereta api yang semakin andal, efisien, dan berkelanjutan di masa mendatang. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page