Harga Telur Jatuh ke Rp20 Ribu per Kilogram, Peternak Ayam Petelur Ciamis Terancam Merugi
- Admin02

- 9 Jul
- 2 menit membaca

Ciamis (PRSSNIJabar) - Peternak ayam petelur di Kabupaten Ciamis kembali menghadapi tekanan berat. Harga telur ayam ras di tingkat peternak terus merosot hingga menyentuh Rp20 ribu per kilogram, sementara biaya pakan justru mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat margin usaha semakin menipis dan mengancam keberlangsungan peternakan rakyat.
Peternak yang tergabung dalam Koperasi Produsen Peternak Ayam Petelur Ciamis (P2APC) di Dusun Cikebot, Desa Muktisari, mengaku harga jual telur di tingkat kandang turun drastis dari kisaran Rp25 ribuāRp26 ribu menjadi hanya Rp20 ribu per kilogram. Di sisi lain, harga pakan naik dari Rp6.800 menjadi Rp7.100 per kilogram, sehingga hasil penjualan telur tidak lagi mampu menutup biaya produksi maupun operasional.
Ketua Badan Pengawas Koperasi P2APC, Endang Kusnadi, mengatakan kondisi tersebut memaksa koperasi menanggung kerugian sekitar Rp2 juta setiap hari agar usaha tetap berjalan.
Untuk menekan beban biaya, peternak terpaksa melakukan berbagai langkah efisiensi, salah satunya mengafkir ayam petelur produktif lebih cepat dari jadwal. Langkah ini dinilai berat, namun menjadi pilihan agar kerugian tidak semakin besar.
Saat ini Koperasi P2APC memiliki sekitar 10 ribu ekor ayam petelur produktif dan 3.500 ekor ayam regenerasi dengan produksi mencapai sekitar lima kuintal telur per hari. Sementara itu, total populasi ayam milik seluruh anggota koperasi di Dusun Cikebot mencapai hampir 500 ribu ekor dengan produksi sekitar 25 ton telur setiap hari.
Menurut para peternak, melemahnya permintaan pasar menjadi penyebab utama anjloknya harga telur. Kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya penyerapan telur saat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami jeda, sehingga pasokan di tingkat peternak menumpuk dan harga terus tertekan.
Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga telur sekaligus meningkatkan penyerapan produksi melalui Program MBG. Mereka mengusulkan agar menu berbahan dasar telur disajikan dua hingga tiga kali dalam sepekan agar produksi peternak terserap lebih optimal, sehingga keberlangsungan usaha peternakan rakyat tetap terjaga dan kesejahteraan peternak dapat meningkat. (AST)



Komentar