top of page

100 Lilin dan Doa dari Ciamis Mengalir Untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

Gambar penulis: Admin02
Admin02
2 hari yang lalu
2 menit membaca



Ciamis (PRSSNIJabar) - Seratus lilin menyala di Alun-Alun Ciamis, Kamis (17/9/2026) malam. Di tengah temaram cahaya itu, puluhan jurnalis dari berbagai organisasi profesi pers berkumpul, memanjatkan doa dan dzikir untuk lima jurnalis serta tiga kru kapal yang hilang di perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.


Aksi solidaritas bertajuk “Doa & Dzikir Bersama Kiai untuk 5 Jurnalis” tersebut menjadi bentuk dukungan moral sekaligus ungkapan keprihatinan insan pers di Priangan Timur terhadap para jurnalis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.


Kegiatan itu diprakarsai gabungan organisasi IJTI Galuh Raya, PWI Ciamis, IWO, dan IPJI. Selain penyalaan 100 lilin, rangkaian acara diisi pembacaan kronologi kejadian, tausiyah, doa bersama, hingga pembacaan puisi.


Doa dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ciamis, Drs. KH. Saeful Ujun.


Kelima jurnalis yang masih dalam pencarian tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari LKBN Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas.


“Kita berkumpul dengan perasaan yang sama. Ini menegaskan solidaritas bahwa pekerjaan yang kita geluti sehari-hari memiliki risiko tinggi, bahkan mempertaruhkan nyawa,” ungkap Irfansyah Riza saat membuka rangkaian acara.


Suasana semakin emosional ketika jurnalis senior LKBN Antara, Adeng Bustomi, menyampaikan kesaksian mengenai insiden tersebut. Ia mengenang komunikasi terakhirnya dengan Bagus Khoirunnas melalui pesan WhatsApp, sekitar tiga hari sebelum kapal yang ditumpangi para jurnalis dan kru tersebut mengalami musibah.


“Jujur, lima sahabat saya itu adalah orang-orang terbaik. Sampai sekarang saya masih sulit percaya mereka hilang. Sebelum berangkat, Bagus sempat mengirimkan dokumentasi persiapan perahu,” ujar Adeng.


Adeng juga menyampaikan apresiasi kepada Basarnas dan pemerintah yang telah melakukan pencarian. Memasuki hari kesepuluh pencarian, ia mengatakan harapan keluarga, rekan sesama jurnalis, dan insan pers agar para korban dapat ditemukan tetap ada.


“Walau hari ini merupakan batas akhir pencarian SAR, kami sangat berterima kasih kepada Basarnas dan pemerintah atas pencarian maksimal. Kami tetap berharap ada keajaiban,” katanya.


Di tengah suasana duka, Adeng menyampaikan pesan kepada para jurnalis yang masih menjalankan tugas di lapangan, terutama ketika harus bekerja di wilayah rawan bencana.


“Pesan untuk kita semua: berita itu tidak seharga nyawa. Kita harus tetap profesional dalam bertugas, tetapi keselamatan diri wajib menjadi prioritas nomor satu. Ingat, ada keluarga yang selalu menunggu kepulangan kita di rumah,” tegasnya.


Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Ciamis KH. Saeful Ujun dalam tausiyahnya mengajak seluruh peserta mendoakan keselamatan lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut.


“Kita berdoa mudah-mudahan mereka berlima dan para kru kapal bisa kembali dalam keadaan selamat. Allah Maha Kuasa atas segala hal. Peristiwa ini juga menjadi bahan muhasabah diri bagi kita semua,” tuturnya.


Rangkaian solidaritas kemudian ditutup dengan pembacaan puisi oleh pembaca berita Kilas Radio PRSSNI Jabar Wilayah Priangan, Didon Nurdani. Puisi dibacakan di tengah temaram 100 lilin yang dinyalakan para peserta.


Setelah itu, para jurnalis dan peserta yang hadir saling berjabat tangan atau musafahah sebagai bentuk penguatan ikatan persaudaraan sesama insan pers. (AST)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page