top of page

SDN 3 Sukanegla Garut Bangun Kelas Baru Berbahan Plastik Daur Ulang

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 12 Jun
  • 2 menit membaca


Garut (PRSSNIJabar) - Tumpukan sampah plastik yang selama ini dianggap sebagai masalah lingkungan kini berubah menjadi solusi bagi dunia pendidikan. Di SD Negeri 3 Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, pembangunan ruang kelas baru dilakukan menggunakan bata berbahan dasar sampah plastik daur ulang, sebuah inovasi yang menggabungkan kepedulian lingkungan dengan kebutuhan sarana belajar siswa.


Program tersebut merupakan bantuan dari Yayasan Bakti Barito yang membangun dua ruang kelas baru (RKB) serta dua unit toilet untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut.


Peletakan batu pertama pembangunan dilaksanakan pada Kamis (11/6/2026), dihadiri Bupati Garut Abdusy Syakur Amin, jajaran Forkopimda, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, guru, siswa, serta perwakilan Yayasan Bakti Barito.


Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian Purbasari, mengatakan teknologi pembangunan ini memanfaatkan limbah plastik residu yang selama ini sulit diolah. Berdasarkan hasil penelitian, material tersebut dinilai kuat, aman terhadap guncangan gempa, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi yang kompetitif.


ā€œTidak hanya batanya saja yang berasal dari limbah plastik. Panel lantai, plafon, atap, pipa, hingga rangka pintu dan jendela juga dibuat dari material daur ulang. Secara keseluruhan, proyek ini akan memanfaatkan sekitar 15 ton sampah plastik residu untuk membangun dua ruang kelas dan dua toilet yang nyaman bagi siswa,ā€ kata Dian.


Ia menjelaskan, bahan baku limbah plastik berasal dari wilayah Garut, sementara proses produksinya dilakukan di Cirebon. Menurutnya, Garut dipilih karena dukungan pemerintah daerah dan antusiasme masyarakat yang sangat baik terhadap program tersebut.


ā€œKami senang karena gagasan ini diterima dengan terbuka. Ini menjadi langkah nyata bahwa pengelolaan sampah bisa memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya di bidang pendidikan,ā€ katanya.


Sementara itu, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, pembangunan berbasis ekonomi sirkular seperti ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan berkelanjutan sekaligus mengurangi persoalan sampah.


ā€œIni merupakan terobosan yang sangat sesuai dengan kebutuhan pembangunan pendidikan saat ini. Selain menghadirkan ruang belajar baru, program ini juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik,ā€ tutur Syakur.


Ia berharap inovasi serupa dapat diterapkan di berbagai wilayah lain di Kabupaten Garut sehingga manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.


Kegembiraan juga dirasakan pihak sekolah. Kepala SDN 3 Sukanegla, Fitri Firdaus, mengaku selama ini sekolah hanya memiliki empat ruang kelas sehingga proses belajar mengajar harus dilakukan secara bergantian antara pagi dan siang.


ā€œAlhamdulillah, bantuan ini sangat membantu kami. Awalnya kami sempat ragu karena bangunan menggunakan bahan daur ulang plastik, tetapi setelah melihat hasil penelitian dan penjelasan dari pihak yayasan, kami menjadi yakin. Mudah-mudahan pada tahun ajaran 2026/2027 ruang kelas dan toilet baru ini sudah bisa digunakan siswa,ā€ kata Fitri.


Hadirnya ruang kelas berbahan sampah plastik daur ulang tersebut menjadi bukti bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi solusi nyata. Tidak hanya mengurangi limbah, inovasi ini juga membuka harapan baru bagi sekolah yang membutuhkan tambahan fasilitas pendidikan.(SLT)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page