top of page

Riset BRIN Buka Jalan Baru Cegah Penyakit Parasit Pada Ikan

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 6 Jul
  • 2 menit membaca


Gambar: Ilustrasi AI
Gambar: Ilustrasi AI

Bandung (PRSSNIJabar) - Penyakit akibat serangan parasit masih menjadi momok bagi dunia budidaya perikanan. Serangan parasit tidak hanya membuat ikan mudah sakit dan pertumbuhannya terhambat, tetapi juga berdampak pada meningkatnya angka kematian hingga menimbulkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya.


Karena itu, pengembangan teknologi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit ikan terus menjadi perhatian para peneliti. Upaya tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam webinar internasional yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).


Melalui Pusat Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), BRIN menghadirkan sejumlah peneliti dari Indonesia dan luar negeri untuk berbagi hasil riset terbaru mengenai cara ikan melawan infeksi parasit.


Dalam keteranganya belum lama ini, Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, mengatakan penyakit parasit hingga kini masih menjadi tantangan besar bagi sektor akuakultur di berbagai negara. Salah satu yang paling sering menyerang ikan air tawar adalah white spot disease atau penyakit bintik putih yang disebabkan oleh protozoa Ichthyophthirius multifiliis.


"White spot merupakan salah satu penyakit parasit paling penting pada ikan air tawar di dunia, sementara hingga kini belum tersedia vaksin yang sepenuhnya efektif," kata Puji.


Ia menjelaskan, pengendalian penyakit tersebut selama ini masih banyak mengandalkan penggunaan bahan kimia. Namun, cara tersebut berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan apabila digunakan secara berlebihan. Karena itu, riset menjadi salah satu jalan untuk menemukan metode pencegahan yang lebih aman dan efektif.


Menurut Puji, kolaborasi antara peneliti dari berbagai negara juga menjadi hal penting agar pengembangan teknologi kesehatan ikan dapat berlangsung lebih cepat. Ia berharap hasil penelitian yang dipaparkan dalam webinar dapat menjadi bekal bagi para akademisi, peneliti, maupun pelaku perikanan dalam menghadapi ancaman penyakit parasit.


Senada dengan itu, Kepala Pusat Riset Perikanan Budidaya Air Tawar BRIN, Fahrurrozi, menambahkan bahwa memahami hubungan antara ikan dan parasit merupakan langkah awal dalam membangun sistem budidaya yang sehat dan berkelanjutan.


"Infeksi parasit dapat menghambat pertumbuhan ikan, melemahkan sistem imun, meningkatkan tingkat kematian, hingga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan," ujarnya.


Sedangkan dalam kesempatan yang sama, Research and Development Biologist Snaptun A/S Denmark, Heidi Mathiessen, memaparkan hasil penelitian mengenai kemampuan alami ikan dalam melawan penyakit bintik putih. Menurutnya, respons imun bawaan menjadi benteng pertama yang menentukan keberhasilan ikan menghadapi infeksi.


Ia juga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi seperti RNA sequencing hingga penyuntingan gen berbasis CRISPR/Cas kini membantu para ilmuwan mengidentifikasi gen-gen yang berperan dalam membentuk daya tahan alami ikan terhadap serangan parasit.


Sementara itu, peneliti BRIN Huria Marnis mempresentasikan penelitian terhadap ikan kod Baltik (Gadus morhua) yang terinfeksi larva nematoda Contracaecum osculatum.


Dari analisis menggunakan teknologi RNA sequencing terhadap 20 sampel ikan, tim peneliti menemukan sebanyak 2.084 gen mengalami perubahan ekspresi akibat infeksi.


"Infeksi Contracaecum osculatum memengaruhi ekspresi gen yang berkaitan dengan pertumbuhan, metabolisme, dan respons imun. Hal ini menunjukkan bahwa dampak infeksi tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh, tetapi juga memengaruhi kondisi fisiologis ikan secara keseluruhan," jelas Huria.


Melalui berbagai temuan tersebut, BRIN berharap riset-riset tentang kesehatan ikan terus berkembang dan menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan dalam budidaya perikanan. Dengan begitu, produktivitas pembudidaya dapat meningkat, sementara risiko kerugian akibat serangan penyakit parasit bisa ditekan. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page