Radio Masa Kini Harus Punya Data dan Komunitas, Bukan Cuma Frekuensi
- Admin02

- 21 Jul
- 2 menit membaca

Bandung (PRSSNIJabar) - Zaman sudah berubah. Kalau dulu radio cukup jaga frekuensi biar jernih, sekarang tantangannya beda. Radio harus hadir di HP, di YouTube, di media sosial, dan punya data pendengarnya.
Hal itu disampaikan Ketua PD PRSSNI Jawa Barat Joesoef Siregar saat membuka Musyawarah Anggota ke-4 PRSSNI Bandung, Selasa (21/7).
"Radio kini harus terintegrasi. Ada siaran terestrial, ada platform online, ada media sosial, dan ada data audiens yang bisa diukur dan dikelola. Itulah fokus transformasi PRSSNI Jawa Barat dalam 5 tahun terakhir," ujar Joesoef.
Menurutnya, biar tetap hidup dan relevan, radio ke depan bertumpu pada 4 hal: jago kelola audiens, punya komunitas yang loyal, bikin konten yang nyambung sama zaman, dan punya data yang bisa dijual ke pengiklan, brand, sampai pemerintah.
Selama 5 tahun terakhir, PRSSNI Jabar sudah mulai membangun fondasi Ekosistem Radio Digital Jawa Barat.
Beberapa yang sudah jalan: bikin platform streaming bareng biar jangkauannya lebih luas, membangun infrastruktur data industri radio, kembangkan radio visual, digitalisasi operasional, sampai menguatkan marketing sindikasi dan riset.
"Kita mengubah cara radio dijual. Dari hanya menjual spot iklan, kini kita menawarkan Audience Data, Airplay Analytics, Campaign Monitoring, Research, Dashboard, hingga Integrated Media Service," jelasnya.
Artinya, pengiklan sekarang bukan cuma beli slot iklan 30 detik. Tapi juga bisa lihat datanya: siapa yang dengar, kapan dengarnya, dan seberapa efektif kampanyenya.
Menurut Joesoef, PRSSNI Jabar juga terus menggandeng pemerintah, agency, brand, dan kampus. Tujuannya biar ekosistem ini makin kuat dan saling mendukung.
Meski begitu, Joesoef jujur kalau transformasi ini belum mudah. Masih ada beberapa batu kerikil.
Mulai dari mindset pengelola yang masih berpikir "broadcast" saja, infrastruktur yang belum merata, SDM digital yang terbatas, masalah investasi, sampai budaya berbagi data antar anggota yang belum jalan.
"Karena itu, PRSSNI Jabar tidak hanya membangun aplikasi atau platform. Kami sedang membangun sebuah ekosistem industri radio yang terintegrasi. Dalam ekosistem ini, setiap radio tetap mempertahankan identitas lokal dan karakternya, namun sekaligus mendapatkan akses terhadap teknologi, data, riset, monetisasi, dan kolaborasi," tegasnya.
Jadi radio tetap jadi radio Bandung, Cirebon, atau Tasik dengan gayanya sendiri. Tapi di belakangnya ada teknologi dan data yang sama-sama dipakai.
Joesoef juga mengapresiasi semangat PRSSNI Bandung. Ia menilai upaya menjaga eksistensi radio di Bandung, mulai dari promosi, naikkan kapasitas SDM, sampai kerja sama dengan berbagai lembaga, bisa jadi contoh buat daerah lain.
Musyawarah Anggota ke-4 ini jadi ajang evaluasi dan menyusun program kerja tahun ke-4 periode 2023-2027.
"Semoga melalui musyawarah ini lahir keputusan dan program yang selaras dengan arah besar tersebut. Agar industri radio kita bukan hanya bertahan, tetapi benar-benar tumbuh dan relevan sesuai kebutuhan zaman," pungkasnya. (GPWK)



Komentar