Dony Munir: UMKM Sumedang Harus Kreatif, Berkualitas, dan Siap Go Ekspor
- Admin02

- 27 Jun
- 2 menit membaca

Sumedang (PRSSNIJabar) - Bupati Sumedang Dony Munir menegaskan pemerintah daerah punya peran kunci dalam memfasilitasi industri kreatif dan UMKM. Kuncinya, kata dia, dimulai dari menyelesaikan masalah dasar yang dihadapi pelaku usaha.
Masalah pertama yang disorot Dony adalah permodalan. Di Sumedang, Pemkab menyediakan Kredit Usaha Rakyat Daerah atau Kurda dengan bunga hanya 3% per tahun.
“Di Sumedang sendiri ada kurda ya, Kredit Usaha Rakyat Daerah, hanya 3% setahun bunganya. Ini untuk UMKM, untuk industri kreatif, dan sebenarnya dibayar 12% ke banknya, ke Bank Sumedangnya. 9% subsidi bunga dari kami, 3% dibayar oleh para kreditur. Jadi, konkret ini untuk membantu UMKM menumbuhkan industri kreatif,” ucap Dony saat ditemui usai pembukaan Sunda Karsa Fest KKJ 2026 di TSM Bandung, Jumat (26/6/2026) malam.
Langkah kedua, lanjut Dony, pemerintah Sumedang menyiapkan wadah edukasi. Tujuannya agar kreativitas UMKM terus hidup dan berkembang. Tanpa ruang belajar, produk akan stagnan.
Ketiga adalah soal kualitas. Produk kreatif harus punya standar tinggi dan berkelanjutan. Keempat, produk itu harus bisa dipasarkan, baik offline maupun online.
“Jadi, saya berharap kegiatan seperti ini menjadi salah satu motivasi ya bagi daerah untuk terus menumbuhkan kreativitas itu dalam bentuk kerajinan dari karya-karyanya, sehingga tiap tahun ada continuous improvement, ada perbaikan terus-menerus. Misalnya batik seperti apa, kemudian apa, kerajinan lainnya,” ungkapnya.
Selain itu, Dony juga melihat ada peningkatan nyata dari tahun ke tahun. Indikatornya terlihat dari stan UMKM Sumedang yang dikurasi Bank Indonesia. Stan-stan itu tidak asal tampil, semuanya sudah diseleksi.
“Dan ada tadi, ada perbaikan terus-menerus sehingga event ini bisa berhasil, berhasil guna, berdaya guna, tidak sebatas acara tahunan. Tapi harus ada nilainya. Apa sih nilai lebihnya? Para UMKM ini semakin meningkat, semakin maju, semakin sejahtera, dan semakin meluas pasarnya,” ujarnya.
Bupati juga langsung menginstruksikan timnya untuk memaksimalkan pameran sebagai ajang jualan, seperti mempersiapkan katalog produk lengkap dengan nomor WhatsApp agar pengunjung mudah memfollow up.
“Anda ini memasarkan produk Sumedang, ayo katalognya persiapkan, follow up-nya seperti apa. Ketika dia lihat katalognya, Oh ini produknya, ada nomor WA-nya. Ke siapa dia follow up-nya, mengajak masyarakat yang hadir ke sini supaya datang ke stan Sumedang,” kata Dony.
Untuk produk andalan, kata Dony, Sumedang memiliki batik, wayang golek, totopong, dan suvenir. Motif khasnya beragam, mulai Mahkota Binokasih, Lingga, Kuda Renggong, Tahu, sampai Kujang.
"Di sektor kuliner, nama besar Sumedang tetap tahu dan Ubi Cilembu. Ubi Cilembu bahkan sudah tembus ekspor ke Malaysia, Jepang, dan Korea. Di Jepang dikenal sebagai “sweet potatoes” kemasan," jelas Dony.
"Ubi Cilembu unik karena hanya tumbuh optimal di tanah Sumedang. Hasilnya akan bagus kalau dioven cara masaknya keluar madunya. Walaupun benihnya seperti itu ditanam di tempat lain, enggak bisa,” tuturnya.
Produk lain yang mulai naik daun adalah Sawo Sukatali dan Salak Salembong. Salembong adalah hasil persilangan salak Bongkok Sumedang yang besar tapi kesat, dengan salak Sleman yang kecil tapi manis.
“Jadi gedenya diambil dari Bongkok, kesatnya hilang manisnya diambil dari Sleman, kecilnya hilang. Jadi ini perkawinan yang berhasil antara Sleman dan Bongkok, sehingga di Sumedang ada Salembong, Sleman-Bongkok,” tuturnya.
Untuk inovasi tahu, Dony menyebut saat ini baru dikembangkan tahu kering seperti tahu gunting. Ke depan Pemkab akan terus dorong diversifikasi produk agar UMKM Sumedang naik kelas. (IGN)



Komentar