top of page

Dedi Mulyadi Usulkan Batas Gaji Orangtua Penerima KIP Kuliah Naik Jadi Rp10 Juta

Gambar penulis: Admin03
Admin03
11 Agu
3 menit membaca


Bandung (PRSSNIJabar) - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan perubahan aturan penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Ia meminta batas maksimal penghasilan orangtua penerima program tersebut dinaikkan hingga Rp10 juta per bulan.


Usulan itu disampaikan Dedi Mulyadi saat memberikan kuliah umum kepada ribuan mahasiswa baru dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (Prabu) Tahun Akademik 2026/2027 di Stadion Jati Padjadjaran, Kampus Unpad Jatinangor, Senin (10/8/2026).


Dedi mengatakan, saat ini salah satu ketentuan penerima KIP Kuliah berkaitan dengan batas penghasilan orangtua yang harus berada di bawah upah minimum provinsi (UMP) di domisili mahasiswa.


Untuk Jawa Barat, ketentuan tersebut membuat penghasilan gabungan orangtua yang ingin mengajukan KIP Kuliah harus berada di bawah sekitar Rp2,3 juta.


Menurut Dedi, aturan tersebut perlu dievaluasi karena biaya pendidikan dan kebutuhan hidup mahasiswa saat ini cukup tinggi.


"Saya usul agar nanti ketentuannya di bawah Rp10 juta boleh dapat KIP," kata Dedi.


Usulan tersebut disampaikan setelah sejumlah mahasiswa mengeluhkan tingginya biaya kuliah dan kebutuhan hidup selama menempuh pendidikan di Jatinangor.


Keluhan tidak hanya datang dari mahasiswa dengan kondisi ekonomi terbatas, tetapi juga keluarga yang secara administratif memiliki penghasilan di atas batas penerima KIP Kuliah, termasuk orangtua yang berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN).


Mahasiswa yang masuk melalui jalur prestasi juga mengeluhkan biaya kos, kebutuhan sehari-hari hingga besarnya Uang Kuliah Tunggal (UKT).


Bahkan, mahasiswa penyandang disabilitas turut menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap akses pendidikan bagi kelompok tersebut.


Gina, salah seorang mahasiswi penyandang disabilitas netra, mengaku bersyukur bisa menempuh pendidikan di Unpad secara gratis. Ia berharap semakin banyak penyandang disabilitas yang mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.


Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Dedi meminta mahasiswa tidak menyerah hanya karena menghadapi kendala biaya.


Ia menegaskan, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan seseorang gagal menyelesaikan pendidikan tinggi.


Dedi bahkan memberikan sejumlah bantuan langsung kepada mahasiswa, mulai dari biaya kos selama dua tahun hingga biaya kuliah gratis selama lima semester.


Ia juga memberikan modal usaha sebesar Rp5 juta kepada mahasiswa yang berencana menjalankan usaha kecil untuk membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah.


Menurut Dedi, pendidikan tinggi harus menjadi jalan bagi generasi muda untuk memperbaiki kehidupan di masa depan.


"Jangan hanya mengejar gelar akademik namun perbanyak pengalaman selama menjadi mahasiswa. Jadikanlah kesulitan itu sahabat agar Anda menjadi orang yang mampu, tidak mengalami masalah ketika berhadapan dengan kesulitan. Musuh jangan dijauhi, tapi jadikan temannya," ucapnya.


Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa asal Depok, Livy, meminta perhatian pemerintah terhadap kondisi jalan di kawasan Jatinangor, khususnya jalan yang berada di sekitar lingkungan kampus.


Ia bahkan menyatakan siap bersama mahasiswa lainnya ikut menjaga dan memperbaiki lingkungan kampus.


Dedi menjelaskan, sejumlah ruas jalan yang dikeluhkan mahasiswa merupakan jalan nasional sehingga kewenangannya berada di pemerintah pusat.


Meski demikian, ia mengaku akan berkomunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum terkait persoalan tersebut.


Jika mendapat izin, Pemprov Jawa Barat, kata Dedi, siap membantu melakukan penanganan.


"Kalau diijinkan tahun depan kinclong. Tapi warga kampus juga harus ikut menjaga kebersihan lingkungan," tegasnya.


Mahasiswa Kedokteran Hewan Diminta Tak Minder


Sementara itu, Keisya, mahasiswi kedokteran hewan, menyampaikan keinginannya untuk ikut menjaga dan mengembalikan keanekaragaman satwa di Indonesia.


Namun, ia mengaku masih ada anggapan bahwa bidang kedokteran hewan kurang diminati dibandingkan kedokteran umum.


Menanggapi hal itu, Dedi meminta mahasiswa kedokteran hewan tidak berkecil hati.


Menurutnya, kebutuhan dokter hewan di Indonesia masih sangat besar, baik di sektor swasta, badan usaha milik negara (BUMN) maupun pemerintahan.


Ia bahkan menilai profesi dokter hewan memiliki peluang penghasilan yang sangat baik.


Dedi juga mengapresiasi cita-cita Keisya untuk membuat data mengenai hewan endemik Indonesia semakin lengkap.


Ia meminta para mahasiswa terus mengembangkan kemampuan dan pengalaman selama berada di bangku kuliah.


"Jangan berkecil hati. Setiap bidang ilmu memiliki kebutuhan dan peluangnya masing-masing. Yang penting terus belajar, membangun pengalaman dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya. (AMJ)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page