top of page

BPS Jabar Gandeng Radio Perkuat Literasi Statistik, Data Harus Mudah Dipahami Masyarakat

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 9 Jul
  • 2 menit membaca

Bandung (PRSSNIJabar) – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat membuka peluang kolaborasi yang lebih erat dengan insan radio untuk meningkatkan literasi statistik di tengah masyarakat. Di era digital saat ini, radio dinilai tetap memiliki peran strategis sebagai media komunikasi yang mampu menjembatani informasi pemerintah dengan masyarakat melalui bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami.


Hal itu disampaikan Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, saat menerima audiensi Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat di Kantor BPS Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).


Menurut Margaretha, perkembangan radio saat ini menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Radio tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan audio, tetapi juga mampu mengombinasikan konten visual melalui berbagai platform digital sehingga semakin dekat dengan masyarakat.


"Radio merupakan media komunikasi yang sangat penting, baik bagi masyarakat maupun pemerintah untuk menyampaikan informasi yang relevan. Sekarang radio sudah bertransformasi menjadi lebih adaptif dengan perkembangan teknologi. Tidak hanya mengandalkan suara, tetapi juga mampu menghadirkan visual yang membuat komunikasi lebih menarik dan membangun engagement dengan pendengar," ujarnya.


Ia menilai transformasi tersebut menjadi modal penting bagi radio untuk tetap eksis di tengah dominasi media visual. Perpaduan audio dan visual dinilai mampu memperkuat penyampaian informasi tanpa menghilangkan karakter khas radio yang selama ini mengandalkan kedekatan dengan pendengarnya.


Dalam kesempatan itu, Margaretha juga menjelaskan tugas utama BPS sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab menyediakan data statistik nasional. Menurutnya, data yang dihasilkan BPS menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan pemerintah sekaligus menjadi referensi bagi dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat umum.


Namun demikian, ia mengakui masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya kegiatan statistik, termasuk pelaksanaan sensus maupun survei yang dilakukan BPS.


"Masih banyak masyarakat yang belum memahami tujuan penyediaan data statistik nasional. Padahal data yang dihasilkan BPS bukan hanya untuk pemerintah, tetapi juga menjadi acuan bagi pengusaha, akademisi, dan masyarakat dalam mengambil berbagai keputusan yang tepat sesuai kondisi di Indonesia," katanya.


Karena itu, BPS membutuhkan dukungan media, khususnya radio, untuk menerjemahkan informasi statistik yang sering kali dianggap rumit menjadi lebih mudah dipahami. Menurut Margaretha, bahasa statistik yang penuh angka dan istilah teknis perlu dikemas dengan pendekatan yang sederhana, komunikatif, dan menarik agar lebih mudah diterima seluruh lapisan masyarakat.


"Statistik itu memang tidak sederhana. Karena itu perlu dibahasakan dengan cara yang sederhana, menggunakan diksi yang mudah dipahami. Harapannya bukan seperti proses belajar yang kaku, tetapi menjadi diskusi yang menyenangkan sehingga pengetahuan dapat diterima masyarakat dengan lebih mudah," ungkapnya.


Ia berharap kolaborasi antara BPS dan PRSSNI Jawa Barat dapat terus diperkuat, terutama dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya data statistik sebagai dasar pembangunan.


"BPS akan selalu terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk radio. Kami berharap kerja sama ini dapat semakin menguatkan edukasi dan literasi statistik kepada masyarakat Jawa Barat," pungkasnya. (GPWK)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page